Pilgub Kepri 2020, Soerya Respationo Nampak Bimbang Tentukan Cawagub

BATAM, KEPRI.INDEKSNEWS.COM – Jelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) 2020, sejumlah kandidat mulai disibukkan dengan siapa figur yang bakal mendampinginya sebagai Cawagub mendatang.

Menurut informasi yang dihimpun dari sejumlah media dalam satu bulan terakhir, Pilgub Kepri 2020 diprediksi bakal diikuti tiga pasang kandidat yaitu, Ismeth Abdullah – Irwan Nasir, Isdianto – Marlin Agustina dan Soerya Respationo – Apri Sujadi.

Saat melihat Cagub Ismeth Abdullah dan Isdianto yang sudah memantapkan pilihannya terhadap cawagubnya Irwan Nasir dan Marlin Agustina Rudi, ini tentu berbeda dengan Soerya Respationo yang masih belum ada kepastian siapa yang bakal digandeng.

Sebelumnya, nama Isdianto sempat digadang-gadang untuk mendampingi Soerya Respationo, namun kandas di tengah jalan dan memilih bertarung secara terbuka. Gagal dengan Isdianto, nama Bupati Bintan Apri Sujadi sempat santer kabar bakal mendampngi Soerya karena basis Apri di Kabupaten Bintan sangat diperhitungkan.

Loading...

Saat ini, Ketua DPD PDIP Kepri tersebut dikabarkan akan berpasangan dengan Syahrul ketua DPD Gerindra Kepri. Karena Syahrul disebut-sebut sudah mendapatkan dukungan dari DPP Gerindra untuk mendampngi Soerya di Pilgub Kepri 2020 mendatang.

“Soerya secara psikologi politik nampak seperti bimbang dalam menentukan siapa bakal cawagubnya. Meski hal tersebut sangat wajar dalam kontestasi politik, namun publik akan menilai bagaimana seorang calon pemimpin dalam mengambil keputusan,”

Demikian disampaikan pengamat politik Kepri Muhammad Sholeh, kepada media melalui pesan tertulisnya, Kamis, 20 Februari 2020.

Selain itu, pria kelahiran Jambi ini menambahkan, jika simulasi pemetaan kekuatan basis dilihat dari figur ketokohan, maka Syahrul dan Apri sama-sama punya kekuatan basis di bawah, Apri di Kabupaten Bintan dan Syahrul di Tanjung Pinang, tentu keduanya juga sama-sama petinggi partai di Kepri.

“Sebenarnya persoalnnya bukan di figur ketokohan atau petinggi parpol. Tapi lebih pada bagaimana figur tersebut bisa diterima masyarakat dan mampu menjadi influencer untuk mendongkrak suara di basis akar bawah, karena tidak sedikit petinggi partai juga akhirnya kalah di Pilkada,” pungkasnya.

loading...